Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 06 Juni 2011

Askep Paru Obstruktif Menahun (PPOM)



A.    KONSEP DASAR MEDIS

A)    Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM)
Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM)
adalah kelainan yang ditandai dengan gangguan fungsi paru berupa memanjangnya periode ekspira yang disebabkan oleh adanya penyempitan nafas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam masa observasi beberapa waktu (Mangsunegoro, 2002) sedangkan secara umum PPOM adalah klasifikasi luas dari gangguan, yang mencakup brokritis empuema dan asma, kondisi inversible yang berkaitan dengan dupnea saat aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar udara paru-paru. PPOM merupakan penyebab kematian kelima terbesar di Amerika Serikat. Penyakit ini menyerang lebih dari 25% populasi dewasa. Penyakit obstruksi menahun (PPOM) dikelompokkan menjadi :
2.      Bronkhitis kronik didefinisikan sebagai adanya batuk produktif yang berlangsung secara 3 bulan dalam satu tahun selama 2 tahun berturut-turut.
3.      Empuema didefinisikan paru didefinisikan sebagai suatu distensi abnormal ruang udara diluar bronkiolus terminal dengan kerusakan dinding alvedi.
4.      Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversible dimana trakea dan bronki berespon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu.
(doenges 2002 : 152)

B)    Anatomi Fisiologi
Paru adalah struktur elastis yang dibungkus dalam sangkar toraks yang merupakan suatu bilik udara kuat dengan dinding yang dapat menahan tekanan-tekanan. Ventilasi membutuhkan gerakan dinding sangkar toraks dan dasarnya yaitu diafragma. Efek dari gerakan ini adalah secara bergantian meningkatkan dan menurunkan kapasitas dada. Ketika kapasitas dalam data meningkat, udara masuk melalui trakea (inspirasi) karena penurunan tekanan di dalam, dan mengembangkan paru. Ketika dinding dada dan diafragma kembali ke ukurannya semula (ekspirasi), paru-paru yang elastis tersebut mengempis dan mendorong udara keluar melalui bronkus dan trakea.
Pleura, bagian terluar dari paru-paru dikelilingi oleh membran halus, licin, yaitu pleura yang juga meluas untuk memungkus dinding interior toraks dan permukaan superior diafragma.
Mediastinum adalah dinding yang membagi rongga toraks menjadi 2 bagian. Terbentuk dari dua lapisan pleura.
Lobus adalah/setiap lobus atau paru dibagi menjadi lobus-lobus. Paru ini terdiri atas lobus bawah dan atas. Paru kanan mempunyai lobus atas, tengah dan bawah.
Bronkus ddan bronkiolus. Terdapat beberapa devisi bronkus di dalam setiap lobus paru. Pertama adalah bronkus laboris (tiga pada paru kanan dan dua pada paru kiri). Bronkus ini dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki arteri, limfatik, dan saraf. Bronkus subsegmental kemudian membentuk percabangan menjadi bronkiolus yang tidak mempunyai kartilago dalam dindingnya dan mengandung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk lapisan bagian dalam jalan nafas.
Alveoli paru terbentuk oleh sekitar 300 juta alveoli yang tersusun dalam kluster antara 15 sampai 20 alveoli. Begitu banyaknya alveoli ini sehingga jika mereka bersatu untuk membentuk satu lembar, akan menutupi area 70 meter persegi (seukuran lapangan tennis).
(Syarifuddin,AMK,2002,hal192)

C)    Insiden
Penyakit paru obs teruktif menahun.
PPOM merupakan penyakit yang menyerang lebih dari 23% populasi dewasa. Penyakit berhubungan dengan interaksi genetik dengan lingkungan. Proses PPOM terjadi dalam rentang lebih dari 20 sampai 30 tahunan. Selain itu terjadi pada individu yang tidak mempunyai enzim normal mencegah penghancuran jaringan parah oleh enzim tertentu. PPOM sering menjadi simptomik selama tahun-tahun usia baya, tetapi insidennya meningkat selama dengan peningkatan usia.
(http/ww.google.com/insiden.PPOM/17/09/09 dormago dan martona)

D)    Etiologi
Etiologi penyakit ini belum diketahui.
Timbulnya penyakit ini dikaitkan dengan faktor-faktor resiko yang terdapat pada penderita antara lain :
1.      Merokok sigaret yang berlangsung lama
2.      Polusi udara
3.      Infeksi paru berulang
4.      Umur
5.      Jenis kelamin
6.      Ras
7.      Defisiensi alfa – 1 antripsin
8.      Defisiensi anti oksidan dll.
Pengaruh masing-masing faktor resiko terhadap PPOM adalah saling memperkuat dan faktor merokok dianggap yang paling dominan dalam menimbulkan penyakit ini.
(darmago dan martona,2009 : 383)

E)    Manifestasi Klinik
1.      Batuk yang sangat produktif, puruken, dan mudah memburuk oleh iritan-iritan inhalan, udara dingin atau infeksi.
2.      Sesak nafas dan dispnea
3.      Terperangkapnya udara akibat hilangnya elastisitas paru menyebabkan dada mengembang.
4.      Hipoksia dan hiperkapnea
5.      Takipnea
6.      Dispnea yang menetap.
(brunner dan suddarth,2002 : 595)

F)     Patofisiologi
Faktor-faktor resiko yang telah disebutkan di atas telah akan mendatangkan proses inplamasi brokus dan juga menimbulkan kerusakan pada dinding bronkiolus terminal. Akibat dari kerusakan yang timbul akan terjadi obstruksi bronkus kecil atau bronkiolus terminal, yang mengalami penutupan/obstruksi awal fase ekspirasi. Udara yang pada saat inspirasi mudah masuk ke dalam alveoli. Saat ekspirasi banyak yang terjebak dalam alveolus dan terjadilah penumpukan udara dan air trapping. Hal inilah yang menyebabkan adanya keluhan sesak nafas dengan gejala akibat-akibatnya. Adanya obstruksi dini saat awal ekspirasi akan menimbulkan kesulitan ekspirasi  dan menimbulkan pemajangan fase ekspirasi.
(brunner dan suddarth,2002 : 595)



G)   Komplikasi
Berdasarkan pada tata pengkajian, potensial komplikasi yang dapat terjadi adalah
v  Gagal / insufensial pernafasan
v  Atelektasis
v  Premonia
v  Pneumotoraks
v  Hipertensi paru
(brunner dan suddarth,2002 : 599)

H)    Pemeriksaan diagnostik
Sinar x dada                :  Dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma; peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/ gula (enfisema); peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis): hasil normal selama periode remisi (asma).
Tes fungsi paru            :  Dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi, untuk memperkirakan derajat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi. Misalnya bronkodilator.
TLC                             : Peningkatan pada luasnya bronkitis dan kadang-kadang pada asma, penurunan emfisema.
Kapasitas inspirasi       :  Menurun pada emfisema
Volume residu             :  Meningkat pada emfisema.bronkitis kronis dan asma
FEV1 / FVC                :  Rasio volume ekspirasi kuat dengan kapasitas vital kuat menurun pada bronkitis dan asma.
GDA                           :  Memperkirakan progresi proses penyakit kronis. Misalnya paling sering PaO2 menurun, dan PaCO2 normal atau meningkat (bronkitis kronis dan enfisema) tetapi sering menurun pada asma; PH normal atau asidotik, alkalosis respiratorik ringan sekunder terhadap hiperventilasi. (emfisema sedang atau asma).
Bronkogram                : Dapat menunjukkan dilatasi silinder bronkus pada inspirasi; bronkral ada ekspirasi kuat (emfisema); pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada bronkitis.
JLD dan diferensial    : Hemoglobin meningkat (emfisema luas), peningkatan eusinofil (asma).
Kimia darah                : Alfa 1-antitripsin dilakukan untuk meyakinkan defisiensi dan diagnosa emfisema primer.
Sputum                        : Kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasikan patogen; pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi.
EKG                            : Deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P (asma berat); distritmia atrial (bronkitis). Peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF (bronkitis, enfisema); aksis vertikal QRS (emfisema).
EKG latihan, tes stres :  Membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru. Mengevaluasi keefektifan terapi bronkodilator perencanaan / evaluasi program latihan.
                                       (brunner dan suddarth,2002 : 560)

I)       Penatalaksanaan / Pengobatan
Tujuan utama pengobatan adalah untuk memperbaiki kualitas hidup, untuk memperlambat kemajuan proses penyakit, dan untuk mengatasi obstruksi jalan nafas untuk menghilangkan hipoksia.
Pendekatan terapeutik meliputi :
Ø  Tindakan pengobatan dimaksudkan untuk memperbaiki ventilasi dan menurunkan upaya bernafas.
Ø  Pencegahan dan pengobatan cepat infeksi
Ø  Pemeliharaan kondisi lingkungan yang sesuai untuk memudahkan pernafasan.
Ø  Dukungan psikologi
Ø  Penyuluhan pasien dan rehabilitasi yang bersinambungan.
(brunner dan suddarth, 2002 : 560)

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A)    Pengkajian Pasien

AKTIVITAS/ISTIRAHAT
Gejala :  -  Keletihan, kelelahan, malaise
               -  Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernafas.
               -  Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur malam posisi duduk tinggi.
               -  Dispnea pada saat istirahat atau respons terhadap aktivitas atau latihan
Tanda  :  -  Keletihan
               -  Gelisah, insomnia
               -  Kelemahan umum / kehilangan massa otot

SIRKULASI
Gejala :  -  Pembengkakan pada eksremitas bawah
Tanda  :  -  Peningkatan TD
               -  Peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, distritmia
               -  Distensi vena leher (penyakit berat)
               -  Edema dependen, tidak berhubungan dengan penyakit jantung
               -  Bunyi jantung redup (yang berhubungan dengan peningkatan diameter AP dada).
               -  Warna kulit/membran mukosa: normal atau abu-abu/ sianosis; kuku tabuh dan sianosis perifer.
               -  Pucat dapat menunjukkan anemia.
           
ITEGRITAS EGO
Gejala :  -  Peningkatan faktor risiko
               -  Perubahan pola hidup
Tanda  :  -  Ansietas, ketakutan, peka rangsang  
           
MAKANAN / CAIRAN
Gejala :  -  Mual/muntah 
               -  Nafsu makan buruk/anoreksia (Emfisema) 
               -  Ketidakmampuan untuk makan karena distres pernapasan.
               - Penurunan BB menetap (Enfisema). Peningkatan BB menunjukkan                         edema (bronkitis).
Tanda  :  -  Turgor kulit buruk
               -  Edema dependen
               -  Berkeringat
               -  Penurunan BB, penurunan massa otot/lemak subkutan (emfisema)
               -  Palpitasi abdominal dapat menyatakan hepatomegali (bronkitis)

HIGIENE
Gejala : -  Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari.
Tanda  :  -  Kebersihan buruk, bau badan.

PERNAPASAN
Gejala : Nafas pendek (timbulnya tersembunyi dengan dispnesa sebagai gejala menonjol pada emfisema) khususnya pada kerja; cuaca atau episode berlangsungnya sulit nafas (asma); rasa dada tertekan, ketidak-mampuan untuk bernafas (asma).

“ Lapar udara “

Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari (terutama pada saat bangun) selama minimum 3 bulan berturut-turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun. Produksi sputum (hijau, putih, atau kuning) dapat banyak sekali (bronkitis kronis).

Episode batuk hilang-timbul, biasanya tidak produktif pada tahap dini meskipun dapat menjadi produktif (emfisema).

Riwayat pneumonia berulang, terpajang pada polusi kimia/iritan pernafasan dalam jangka panjang (mis., rokok sigaret) atau debu/asap (mis, asbes, debu batubara, rami katun, serbuk gergaji).

Faktor keluarga dan keturunan, mis., defisiensi alfa-antitripsin (Emfisema).
Penggunaan oksigen pada malam hari atau terus menerus.
Tanda  :  Pernafasan : biasanya cepat, dapat lambat; fase ekspirasi memanjang dengan mendengkur, nafas bibir (Emfisema).

Lebih memilih posisi tiga titik (“tripot) untuk bernafas (khususnya dengan eksaserbasi akut bronkitis kronis).

Penggunaan otot bantu pernapasan, mis., meninggikan bahu, retraksi fosa supraklafikula, melebar hidung.

Dada: dapat terlihat hiperinflasi dengan peninggian diameter AP            (bentuk - barrel); gerakan diafragma minimal).

Bunyi nafas: mungkin redup dengan ekspirasi mengi (Emfisema); menyebar, lembut, atau urehels lembab kasar (bronkitis); ronki, mengi sepanjang area paru pada ekspirasi dan kemungkinan selama inspirasi berlanjut sampai penurunan atau tak adanya bunyi nafas (asma).

Perkusi : hiperesounan pada area paru (mis., jebakan udara dengan enfisema); bunyi pekat pada area paru (mis., konsolidasi, cairan, mukosa).

Kesulitan bicara kalimat atau lebih dari 4 atau 5 kata sekaligus.

Warna : pucat dengan sianosis bibir dan dasar kuku; abu-abu keseluruhan; warna merah (bronkitis kronis), “biru menggembung”. Pasien dengan emfisema sedang sering disebut “pink puffer” karena warna kulit normal meskipun pertukaran gas tak normal dan frekuensi pernafasan cepat.

Tabuh pada jari-jari (Enfisema)             

KEAMANAN
Gejala : -  Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor lingkungan
                       
                        Adanya / berulangnya infeksi

                        Kemerahan / berkeringat (asma)
SEKSUALITAS
      Gejala : -  Penurunan libido

INTERAKSI SOSIAL
      Gejala : -  Hubungan ketergantungan
                     -  Kurang sistem pendukung
                     -  Kegagalan dukungan dari/terhadap pasangan/orang terdekat.

      Tanda : -  Ketidakmampuan untuk membuat /mempertahankan suara karena distres pernafasan
                     -  Keterbatasan mobilitas fisik
                     -  Kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain.

      PENYULUHAN/PEMBELAJARAN
      Gejala                          : -  Penggunaan / penyalahgunaan obat pernafasan
                                             -  Kesulitan menghentikan merokok
                                             -  Penggunaan alkohol secara teratur
                                             -  Kegagalan untuk membaik

      Pertimbangan              :  DRG menunjukkan rerata lama dirawat : 5,9 hari.
      Rencana pemulangan :  Bantuan dalam berbelanja, transportasi, kebutuhan                              perawatan diri, perawatan rumah/mempertahankan tugas                   rumah.

                                             Perubahan pengobatan / program terapeutik
                                             (doenges, 2003 : 132)
                                              








B)    Penyimpangan KDM








 



Gangguan suplai oksigen


 


Penumpukan udara/trapping
 


Kerusakan alveoli












Kerusakan pertukaran gas
 



Bersihkan jalan nafas tidak efektif
 



 















                                       Kurang informasi



                                     Kebutuhan kognitif



Kurang pengetahuan
 
                                                



PPOM

Adanya polusi udara

Inflamasi bronkus

Peningkatan produksi sektet

Kerusakan dinding bronkitis

Obstruksi kecil/bronkus terminal

Penurunan energi/kelemahan

Efek samping obat

Produksi spatum

Anoreksia, mual/muntah

Perubahan nutrisi











C)    Diagnosa Keperawatan PPOM (Penyakit Paru Obstruktif Menahun)
Berdasarkan pada semua data pengkajian, diagnosa keperawatan pasien dapat mencakup sebagai berikut.
Dx  1.  Bersihkan jalan nafas, terafektif berhubungan dengan
-          Brokapasma
-          Peningkatan produksi sekret, sekresi tertahan, tebal sekresi kental.
-          Penurunan energi/kelemahan
Dx  2.  Pertukaran gas, kerusakan berhubungan dengan
-          Gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan nafas dan sekresi, spasme, bronkus, jebakan udara)
-          Kerusakan alveoli/pentilasi paru
Dx  3.  Nutrisi, perubahan, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
-          Dispnea
-          Kelemahan
-          Efek samping obat
-          Produksi sputum
-          Anereksia, mual/ muntah
Dx 4.   Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai konsidi, tindakan berhubungan dengan
-          Kurang informasi/tidak mengenal sumber informasi
-          Salah mengerti tentang informasi
-          Kurang mengingat/keterlambatan kognitif
(doenges, 2003 : 134)












D)    Intervensi
1)   Intervensi :  Bersihkan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronkontriksi, peningkatan pembentukan mukus, batuk tidak efektif, infeksi bronkopalmunal.
      Tujuan       :  Mempertahankan jalan nafas pasien dengan bunyi nafas bersih/jelas.

TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
-    Auskultasi bunyi nafas. Catat adanya bunyi nafas mis. Mengi, krekels, ronki.


-    Kaji/pantau frekuensi pernafasan catat rasio inspirasi/ekspiras.



-    Catat adanya/derajat dipsnea mis. keluhan “lapar udara” gelisah ansietas, distres pernafasan. Penggunaan otot buntu.

-    Kaji pasien untuk posisi yang nyaman mis. Peninggian kepala tempat tidur, duduk pada sandaran tempat tidur.


-    Pertahankan poksi lingkungan minimun.

-    Dorong/bantu latihan nafas abdomen/bibir.
-      Beberapa derajat spasme brokus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat/tak dimanifestasikan adanya bunyi nafas adventitus.

-      Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan/selama stress/adanya proses infeksi akut.

-      Disfungsi pernafasan adalah variabel yang tergantung pada tahap proses kronis selain proses akut yang menentukan perawatan di rumah sakit.

-      Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. Namun pasien dengan distres berat akan mencari posisi yang paling mudah bernafas.

-      Pencetus tipe reaksi alergi pernafasan yang dapat mentriger episode akut.

-      Memberikan paster beberapa cara dispnea dan menurunkan jebakan udara.
2)   Intervensi :  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, produksi sputum, efek samping obat, kelemahan, dispnea.
      Tujuan       :  Menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat.

INTERVENSI
RASIONAL
-    Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan, catat penggunaan otot aksesori, nafas bibir ketidak-mampuan berbicara.

-    Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih pasien yang mudah untuk bernafas.

-    Dorong mengeluarkan sputum penghisapan diindikasikan.





-    Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa.




-    Auskultasi bunyi nafas, catat area penurunan aliran udara/bunyi tambahan.

-    Palpasi premitus.

-      Berguna dalam evaluasi derajat distres pernapasan dan kronisnya proses penyakit.


-      Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan nafas untuk menurunkan kolaps jalan nafas, dispnea kerja nafas.

-      Kental, tebal dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan nafas kecil. Penghisapan dibutuhkan bila batuk tidak efektif.

-      Sianosis mungkin perifer (terlihat pada sekitar bibir/daun telinga) keabu-abuan dan diagnosis sentral mengidentifikasi-kan beratnya hipoksia.

-      Bunyi nafas mungkin redup karena penurunan aliran udara atau area konsolidasi.

-      Penurunan getaran ultrasi di duga ada pengumpulan cairan/udara.

3)   Intervensi :  Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi paru.
      Tujuan       :  Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distres pernafasan.

INTERVENSI
RASIONAL
-    Kaji kebiasaan diit, masukan makanan saat ini, catat derajat kesulitan makanan, evaluasi berat badan dan ukuran tubuh. 


-    Auskultasi bunyi usus






-    Berikan perawatan oral sering, buang sekret, berikan wadah khusus untuk sekali pakai tisu.


-    Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.


-    Hindari makanan yang sangat panas/sangat dingin.

-    Timbang berat badan sesuai indikasi.

-      Pasien distres pernapasan akut sering anoreksia karena dispnea, produksi sputum, dan obat. Selain itu banyak pasien PPOM mempunyai kebiasaan makan bubur.

-      Penurunan/tipoaktif bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster dan konstipasi (komplikasi umum) yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan, pilihan makan buruk penurunan aktivitas dan hipoksemia.

-      Rasa tak enak, bau penampilan; pencegah utama terhadap nafsu makan dapat membuat mual dan muntah dengan peningkatan kesulitan nafas.

-      Dapat menghasilkan distensi abdomen dan gerakan diafragma, dan dapat meningkatkan dispnea.

-      Suhu ekstern dapat mencetuskan/ meningkatkan spasme batuk.

-      Berguna menentukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan berat badan, dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.
4)   Intervensi :  Kurang pengetahuan tentang kondisi (kebutuhan kelenjar) mengenai kondisi, tindakan berhubungan dengan kurang informasi.  
      Tujuan       :  Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan.

INTERVENSI
RASIONAL
-    Kuatkan penjelasan proses penyakit individu. Dorong pasien/ orang terdekat untuk menanyakan pertanyaan.
-    Instruksikan/kuatkan rasional untuk latihan nafas, batuk efektif dan latihan kondisi umum.


-    Diskusikan obat pernafasan, efek samping dan reaksi yang tak diinginkan.  

-    Tunjukkan teknik penggunaan dosis inhaler (matered-doseinhaler/MDI) seperti bagaimana memegang, interval semprotan 2-5 m, bersihan inhaler.
-    Sistem alat untuk mencatat obat  intermiten/penggunaan inhaler.


-    Anjurkan menghindari agen sedatif antiansitas kecuali diresepkan diberikan oleh dokter mengobati kondisi pernafasan.
-      Menurunkan ansitas dan dapat menimbulkan perbaikan pastisipasi pada rencana pengobatan.

-      Nafas bibir dan nafas abnormal/ diafragmatik otot pernafasan, membantu meminimalkan kolaps jalan nafas kecil dan memberikan individu arti untuk mengontrol dispnea.
-      Pasien ini sering mendapatkan obat pernafasan banyak sekaligus yang mempunyai efek samping hampir sama dan potensial interaksi obat.
-      Pemberian yang tepat obat meningkatkan penggunaan dan keefektifan.


-      Menurunkan resiko penggunaan tak tepat/kelebihan dosis dari obat kalau perlu, khususnya selama eksaserbasi akut, bila kognitif terganggu.
-      Meskipun pasien mungkin gagap dan merasa perlu sudatif, ini dapat menekan pernafasan dan melindungi mekanisme batuk.


E)    Implementasi
Dx 1 :  1.  Mengauskultasi bunyi nafas, mencatat adanya bunyi nafas
                 Mis., mengi, krekels, ronki
            2.  Mengkaji/memantau frekuensi pernafasan
                 Catat rasio inspirasi/ekspirasi
            3.  Mencatat adanya/derajat dispnea
                 Mis., keluhan “lapar udara”, gelisah, ansietas, destres pernafasan penggunaan otot bantu.
            4.  Mengkaji pasien untuk posisi yang nyaman
                  Mis., Peninggian kepada tempat tidur, duduk pada sandaran tempat tidur.
5.      Mempertahankan polusi lingkungan minimum
Mis., debu, asap dan bulu bantal yang behubungan dengan kondisi individu.
6.      Mendorong/membantu latihan nafas abdomen.

Dx 2:  1.  Mengkaji frekuensi, kedalaman pernafasan
                  Catat penggunaan otot aksesori, nafas bibir, ketidakmampuan bicara/berbincang.
            2.   Meninggikan kepala tempat tidur, bantu pasien  untuk memilih posisi yang mudah untuk bernafas.
                  3.  Mengkaji/mengawasi seluruh rutin dan warna membran mukosa.
                  4.  Mendorong mengeluarkan sputum
                  5.   Mempalfasi premitus
                  6.   Mengawasi tingkat kesadaran/status mental, selidiki adanya perubahan.
                  7.   Mengevaluasi tingkat toleransi aktivitas.

Dx 3    1.  Mengkaji kebiasaan dier, masukan makanan saat ini. Mencatat kesulitan makan. Evaluasi berat badan.
            2.   Mengauskultasi bunyi usus
                  3.  Memberikan perawatan oral sering, membuang sekret, memberikan wadah khusus untuk sekali pakai dan tisu.
                  4.  Mendorong periode istirahat semalam 1 jam sebelum dan sesudah makan.
                  5.   Menghindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat
                  6.   Menghindari makanan yang sangat panas dan dingin
                  7.   Menimbang berat badan sesuai indikasi.

Dx 4          1.         Menjelaskan/menguatkan penjelasan proses penyakit individu. Dorong pasien/orang terdekat untuk menanyakan pertanyaan.
            2.   Menginstruksikan/menguatkan rasional untuk latihan nafas, batuk efektitif dan latihan kondisi umum.
                  3.  Mendiskusikan obat pernafasan, efek samping dan reaksi yang tak diinginkan.
                  4.  Menunjukkan teknik penggunaan dosis inhaler, seperti bagaimana memegang interval semprotan 2-5 menit, bersihan inhaler.
                  5.   Menghindari agen sedatif antiansitas kecuali diserapkan diberikan oleh dokter mengobati kondisi pernafasan.
                  6.   Menekankan pentingnya perawatan oral/bersihan gigi.
                  7.   Mendiskusikan pentingnya menghindari orang yang sedang infeksi pernafasan efektif. Tekankan perlunya vaksinasi influenza/pemokokoal rutin.
                  8.  Mendiskusikan faktur individu yang meningkatkan kondisi, mis, udara terlalu kering, angin, lingkungan dengan suhu ekstrem.










EVALUASI
Hasil yang diharapkan
1.      Menunjukkan perbaikan pertukaran gas dengan menggunakan bronkodilator dan terapi oksigen sesuai yang diresepkan.
a.       Tidak menunjukkan tanda-tanda kegelisahan, konfusi dan agitasi.
b.      Mempunyai nilai-nilai gas darah arteri yang stabil (tetapi tidak harus nilai-nilai yang normal karena perubahan kronis dalam kemampuan pertukaran gas dari paru-paru).
2.      Mencapai bersihan jalan nafas
a.       Berhenti merokok
b.      Menghindari bahan-bahan yang merangsang dan suhu yang ekstrim
c.       Meningkatkan masukan cairan hingga 6 sampai 8 gelas sehari.
d.      Melakukan drainase postural dengan benar.
e.       Mengetahui tanda-tanda dini infeksi dan waspada terhadap pentingnya melaporkan tanda-tanda ini jika terjadi.
3.      Memperbaiki pola pernafasan
a.   Berlatih dan menggunakan pernafasan diafragmatis dan bibir dirapatkan.
b.   Menunjukkan penurunan tanda-tanda upaya bernafas
4.      Melakukan aktivitas perawatan diri dalam batasan toleransi
a.   Mengatur aktivitas untuk menghindari keletihan dan dispnea
b.   Menggunakan pernafasan terkendali ketika melakukan aktivitas
5.      Mencapai toleransi aktivitas, dan melakukan aktivitas latihan serta melakukan aktivitas dengan sesak nafas lebih sedikit.
6.      Mendapatkan mekanisme koping yang efektif serta ikut dalam program rehabilitasi paru.
7.      Patuh terhadap program terapeutik
a.   Mengikuti regimen pengobatan yang diharuskan
b.   Berhenti merokok
c.  Mempertahankan tingkat aktivitas yang dapat diterima
8.   Bebas dari komplikasi
a.   Menunjukkan tidak adanya bukti-bukti gagal atau insufisiensi pernafasan.
b.   Mempertahankan gas darah yang sesuai
c.  Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi

DAFTAR PUSTAKA


-          Brunner & Suddart (2002) “Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah” Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar